Minggu, 29 Maret 2015

Definition, Formula and Example Sentences Simple Present Tense

Definition, Formula and Example Sentences Simple Present Tense

Simple Present Tense is a form of the verb to express facts, habits, or events that occur at the present time. In English, the use of the verb form is most often used when compared with other English tenses.
Non-action sentence is a sentence that is used to describe a situation or event. In this case, the non-action phrase used to express a situation or event that is taking place in the present. Sentence of non-action is also called nominal sentence. Nominal sentence is a sentence which the predicate is not a verb or a verb. Therefore, the predicate in a sentence of non-action in this tense is the auxiliary verb to be (am, is, are), so that the Simple Present Tense formula as follows:
(+) S + To be (am, is, are) + Complement
(-) S + To be (am, is, are) + Not + Complement
(?) To be (am, is, are) + S + Complement?
Action sentence is a sentence that contains the action in a situation or event. In this case, the action phrase used to express an action which is a habit and routine or declare acts containing general truth. Sentence action is also called the verbal sentence. Verbal sentence is a sentence that is the predicate verb or verb. Thus, the title of the action in the sentence is a verb tense, so the Simple Present Tense formula as follows:
(+) S + Verb 1 (-s/es) + Object/Adverb
(-) S + Do / Does + Not + Verb 1 + Object/Adverb
(?) Do / Does + S + Verb 1 + Object/Adverb?

Example:
(+) Mr.Jono Reads a newspaper
(-) Mr.Jono Don't Read a newspaper
(?) Do Mr.Jono Read a newspaper?





Sumber 

Sabtu, 07 Februari 2015

IHSG Ditutup Menguat 1,18 Persen

Ceria di Akhir Pekan, IHSG Ditutup Menguat 1,18 Persen

Sentimen dari bursa AS yang ditutup menguat pada dini hari tadi (6/2/2015) melambungkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan akhir pekan ini.

Data ketenagakerjaan yang lebih baik dari prediksi para analis membuat investor optimistis terhadap perekonomian AS. Di sisi lain, investor di kawasan Asia Pasifik juga mencermati data perekonomian China yang dikawatirkan melemah. Hal itu menjadi alasan pemodal melakukan aksi ambil untung, sehingga membuat bursa Hong Kong dan Shanghai ditutup memerah.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG terus melaju di zona hijau. Hingga pada pukul 16.00, IHSG ditutup menguat sebesar 62,62 poin atau 1,18 persen di posisi 5.342,51. Sebanyak 200 saham ditutup menguat, 91 saham melemah dan 79 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 6,5 miliar lot saham senilai Rp 7,31 triliun.

Saham-saham yang menjadi top gainers adalah MREI (13,47 persen), MRAT (11,3 persen), SHID (10,34 persen), MFMI (10,15 persen) dan GLOB (9,09 persen). Di sisi lain, saham-saham yang menjadi top losers yaitu PTIS (-14,28 persen), ASBI (-12,5 persen), SSTM (-10 persen), PSDN (-9,77 persen) dan TRAM (-9,48 persen).

Seluruh sektor saham juga ditutup ceria pada sore ini, yaitu agribisnis (3,07 persen), pertambangan (1,07 persen), industri dasar (0,65 persen), aneka industri (0,62 persen), konsumer (2,57 persen), properti (1,09 persen), infrastruktur (0,28 persen), keuangan (0,65 persen), perdagangan (0,32 persen), dan manufaktur (1,6 persen).

Bursa di kawasan Asia Pasifik sebagian besar juga menguat sore hari ini, meski dua bursa di kawasan China memerah akibat profit taking setelah hari sebelumnya mencatatkan penguatan.

Bursa Tokyo berakhir menguat sebesar 0,82 persen menjadi 17.648,5, sedangkan bursa Seoul juga ditutup menghijau sebesar 0,14 persen di level 1.955,52. Namun demikian, bursa Hong Kong menutup pekan ini dengan melemah sebesar 0,35 persen menjadi 24.679,39 sedangkan bursa Shanghai juga ditutup turun 1,93 persen di posisi 3.075,91.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/02/06/162752926/Ceria.di.Akhir.Pekan.IHSG.Ditutup.Menguat.1.18.Persen

Belanja Pemerintah Turun

Belanja Pemerintah Turun Rp 9,1 Triliun

Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, rapat Badan Anggaran DPR-RI dan pemerintah, Jumat (6/2/2015) menyepakati target belanja pemerintah dalam APBN-Perubahan 2015 sebesar Rp 1.985,7 triliun. Angka ini turun Rp 9,1 triliun dari nota keuangan yang sebesar Rp 1.994,9 triliun. “Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp 772,3 triliun, belanja non-K/L sebesar Rp 551,9 triliun,” kata Bambang. 

Sementara itu, pembayaran bunga utang disepakati Rp 155,7 triliun terdiri dari subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 64,7 triliun, subsidi listrik sebesar Rp 73,1 triliun, dan ada potensi tambahan belanja negara sebesar Rp 20,9 triliun. 

Dana Bagi Hasil mengalami penurunan dari Rp 664,1 triliun menjadi Rp 661,6 triliun. Jumlah ini terdiri dari transfer ke daerah sebesar Rp 640,8 triliun dan dana desa sebesar Rp 20,8 triliun. “Anggaran pendidikan tetap dipertahankan pada rasio 20,48 persen, atau Rp 406,6 triliun,” imbuh Bambang. 

Lebih lanjut dia bilang keseimbangan primer dipatok defisit Rp 68,4 triliun. Sementara itu defisit anggaran sebesar Rp 244,1 triliun akan ditutup dengan pembiayaan dalam negeri yang terdiri dari Surat Berharga Negara netto sebesar Rp 299,3 triliun, serta pengurangan dana investasi pemerintah Rp 58,8 triliun. “Untuk pembiayaan Luar Negeri, ada nettonya minus (-) Rp 20 triliun, terdiri dari penarikan yang Rp 48,6 triliun yang lebih kecil daripada pembayaran cicilan pokok sebesar Rp 64,2 triliun,” kata Bambang. 

Dia mengatakan potensi tambahan belanja yang sebesar Rp 20,9 triliun diusulkan agar pemanfaatannya untuk belanja K/L, transfer ke daerah, dan mengurangi defisit. “Paling tidak kita kembali pada defisit yang ada di Nota Keuangan sebesar 1,9 persen,” tandas dia.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/02/06/180354426/Belanja.Pemerintah.Turun.Rp.9.1.Triliun

Pendapatan Negara Lebih Rendah

Pendapatan Negara Dipatok Lebih Rendah Jadi Rp 1.761,6 Triliun di RAPBN-P 2015

Seiring dengan bergesernya asumsi makro ekonomi, pemerintah juga mengubah sejumlah target penerimaan maupun pembiayaan dalam RAPBN Perubahan 2015.

“Terkait pendapatan negara, secara keseluruhan ada penurunan, yaitu Rp 7,32 triliun,” kata Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro di Jakarta, Jumat (6/2/2015). 

Pendapatan dalam postur sementara APBN-Perubahan 2015 disepakati menjadi Rp1.761,6 triliun. Sebelumnya, ditargetkan pendapatan negara mencapai Rp 1.769 triliun. 

Bambang menjelaskan, turunnya pendapatan utamanya disebabkan dari penurunan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) khususnya dari Sumber Daya Alam (migas) yang terkoreksi hingga Rp 14,27 triliun. “PNBP dari minyak bumi turun Rp 11,4 triliun, dan dari gas bumi turun Rp 2,86 triliun,” kata dia. 

Namun, PNBP dari SDA non-migas masih ada sedikit kenaikan sebesa Rp 112,8 miliar didorong perubahan kurs, dari Rp 12.200 menjadi Rp 12.500. Ini terjadi pada penerimaan dari sektor kehutanan maupun perikanan.

“Untuk PNBP lainnya, itu ada peningkatan sedikit, Rp 162,2 miliar karena ada penambahan pada PNBP K/L sampai Rp 1,2 triliun sebagai akibat adanya perubahan kurs dan peningkatan penjualan hasil tambang. Namun di sisi lain, PNBP dari DMO (domestic market obligation) dari BBM (bahan bakar minyak) turun sampai Rp 1,05 triliun,” ucap dia.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/02/06/165453026/Pendapatan.Negara.Dipatok.Lebih.Rendah.Jadi.Rp.1.761.6.triliun.di.RAPBN-P.2015

Dirjen Pajak Dilantik

Dirjen Pajak Dilantik, Sigit Gantikan Mardiasmo

 Menteri Keuangan Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro resmi melantik, Sigit Priadi Pramudito sebagai Direktur Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan, Jumat (6/2/2015). Sigit menggantikan posisi Mardiasmo selaku Pelaksana Tugas Dirjen Pajak, Kemenkeu.
Bambang berpesan target perpajakan dalam APBN Perubahan 2015 harus bisa tercapai. "Pesan saya tingkatkan kepatuhan, kurangi kebocoran, kurangi praktek yang membuat Dirjen Pajak tidak berdaya dalam meningkatkan penerimaan pajak," kata Bambang dalam sambutan pelantikan.
Meski begitu, dia berharap, upaya-upaya yang dilakukan tidak mengganggu iklim bisnis. Bahkan dia menyebut, kalau perlu Wajib Pajak tidak nakal diberikan penghargaan.
Bambang bilang, Sigit yang memegang unit eselon satu terbesar dengan jumlah, 32.000 pegawai pajak, diharapkan memilikileadership kuat.
"Dari setiap individu dirjen pajak, dari situlah kita berharap target tercapai," kata Bambang.
"Saya sangat menganjurkan, Pak Sigit bisa mengayomi, memberikan motivasi, dan mengingatkan kalau tidak bekerja sebagaimana mestinya," ujar dia.

Meski Sudah Dilantik, BKF Masih Dikepalai Seorang Plt

Meski Sudah Dilantik, BKF Masih Dikepalai Seorang Plt

Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kementerian Keuangan, Andien Hadiyanto digantikan oleh Suahasil Nazara. Jumat (6/2/2015) petang ini, Menteri Keuangan Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro melantik Suahasil sebagai Plt Kepala BKF.
Bambang mengatakan, terpilihnya sejumlah pejabat eselon satu termasuk Suahasil merupakan hasil dari seleksi terbuka sesuai Undang-undang Aparatur Sipil Negara.
"Proses sangat panjang melelahkan, sejak November 2014," kata Bambang.
Dia berharap, dengan seleksi terbuka yang begitu panjang, ada usaha untuk bisa meningkatkan kinerja di masing-masing unit eselon satu. Bambang berharap, Suahasil bisa melakukan hal-hal yang lebih baik di bidang fiskal, lebih dari Andien Hadiyanto.
"Saya menghargai tekat dan determinasi dari para calon untuk merengkuh jabatan yang diinginkan. Terimakasih juga pada pansel," tukas Bambang yang juga pernah menjabat Plt Kepala BKF ini.

Pejabat yang Baru di Kementrian Keuangan

Ini Daftar Lengkap Pejabat Baru di Kementrian Keuangan

Menteri Keuangan Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro melantik lima pejabat eselon I dan delapan pejabat eselon II Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Bambang mengatakan, kelima pejabat eselon I yang dilantik merupakan hasil dari Seleksi Terbuka Pengisian Jabatan Tinggi Madya (Eselon I.a dan I.b) di lingkungan Kemenkeu tahun 2014 dan 2015 yang dilakukan secara terbuka bagi seluruh Pegawai Negeri Sipil Pusat dan Daerah dalam rangka mencari talent terbaik bangsa.
Adapun kelima pejabat eselon I Kemenkeu yang dilantik untuk memangku jabatan pada unit satuan kerja masing-masing adalah:
1. Sigit Priadi Pramudito sebagai Direktur Jenderal Pajak
2. Suahasil Nazara sebagai Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal
3. Sumiyati sebagai Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan
4. Susiwijono sebagai Staf Ahli Bidang Organisasi Birokrasi dan Teknologi Informasi
5. Astera Primanto Bhakti sebagai Staf Ahli Bidang Penerimaan Negara.
Pada kesempatan sama, Bambang juga melantik pejabat eselon II yang terdiri dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko, Badan Kebijakan Fiskal, dan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Adapun nama-nama yang dilantik adalah sebagai berikut:
1. Kiswandoko sebagai Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jawa Timur
2. Dedi Soepandi sebagai Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Kalimantan Selatan
3. Anugrah Komara sebagai sebagai Kepala Kanwil Ditjen Kekayaan Negara Sumatera Selatan, Jambi, dan Bangka Belitung
4. Tedy Syandriadi sebagai Kepala Kanwil Ditjen Kekayaan Negara Kalimantan Barat
5. Safuadi sebagai Sekretaris Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko
6. Freddy R Saragih sebagai Direktur Pengelolaan Dukungan Pemerintah dan Pembiayaan Infrastruktur
7. Basuki Purwadi sebagai Kepala Pusat Kebijakan Keuangan
8. Annies Said Basalamah sebagai Kepala Pusdiklat Pengembangan Sumber Daya Manusia.